Senin, 12 Januari 2026

Tugas Mandiri 15

 

Tugas Mandiri 15

Riset Tren Kewirausahaan Global & Peluang Digital
Topik: Artificial Intelligence for Small Business


1. Ringkasan Tren Global

Salah satu megatren paling besar dalam kewirausahaan global saat ini adalah pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) untuk usaha kecil dan menengah (SMEs). Jika dulu AI hanya bisa digunakan perusahaan besar karena mahal dan kompleks, kini AI sudah tersedia dalam bentuk cloud, API, dan aplikasi siap pakai seperti ChatGPT, Midjourney, dan berbagai AI CRM.

Menurut laporan McKinsey Global Institute, AI tidak lagi hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga menjadi sumber penciptaan model bisnis baru. UMKM di seluruh dunia mulai menggunakan AI untuk:

  • Melayani pelanggan secara otomatis (chatbot)

  • Membuat konten pemasaran

  • Mengelola stok dan permintaan pasar

  • Menganalisis perilaku konsumen

Tren ini penting karena lebih dari 90% bisnis di dunia adalah UMKM, dan digitalisasi mereka menjadi kunci pertumbuhan ekonomi global.


2. Bukti Data

Beberapa data pendukung dari laporan kredibel:

  • Menurut McKinsey (2023), AI berpotensi menambah nilai ekonomi global hingga USD 4 triliun per tahun melalui peningkatan produktivitas bisnis.

  • Laporan Google–Temasek–Bain (e-Conomy SEA 2023) menunjukkan bahwa ekonomi digital Asia Tenggara diperkirakan mencapai USD 295 miliar pada 2025, dengan UMKM sebagai pengguna terbesar layanan digital dan AI.

  • Deloitte Insights melaporkan bahwa lebih dari 60% usaha kecil di Asia mulai menggunakan alat berbasis AI untuk pemasaran dan layanan pelanggan.

Data ini menunjukkan bahwa AI bukan tren sesaat, melainkan fondasi baru kewirausahaan digital.


3. Analisis Peluang Bisnis Digital

Peluang yang dipilih:

Jasa “AI Assistant untuk UMKM Online”

Masalah yang diselesaikan

Banyak UMKM Indonesia (toko online, penjual di Shopee, TikTok Shop, Instagram) mengalami masalah:

  • Tidak bisa membalas chat pelanggan dengan cepat

  • Kewalahan membuat konten promosi

  • Tidak mampu menganalisis data penjualan

Padahal, respon lambat dan promosi yang buruk menyebabkan kehilangan pelanggan.

Solusi berbasis tren AI

Mendirikan jasa penyedia asisten AI untuk UMKM, yang membantu:

  • Chat otomatis ke pelanggan (WhatsApp, Instagram, Shopee)

  • Pembuatan caption, iklan, dan deskripsi produk

  • Laporan penjualan otomatis

Teknologi kunci

  • ChatGPT API → menjawab chat pelanggan

  • Cloud Computing → menyimpan data transaksi

  • No-code tools (Zapier, BotPress, dll) → menghubungkan marketplace dan WhatsApp

Target pasar

UMKM online di Indonesia:

  • Penjual Shopee, Tokopedia, TikTok Shop

  • Pebisnis Instagram dan WhatsApp

  • Warung modern dan reseller

Mereka tidak punya staf IT, tetapi butuh otomatisasi.


4. Strategi Adaptasi di Konteks Lokal

Bisnis ini sangat cocok untuk mahasiswa karena:

  • Tidak perlu membuat software dari nol

  • Bisa menggunakan layanan AI siap pakai

Cara memulai dengan modal minimal

  1. Gunakan ChatGPT API atau platform chatbot gratis

  2. Tawarkan jasa ke UMKM sekitar kampus atau lewat Instagram

  3. Paketkan layanan misalnya:

    • Rp300.000/bulan untuk chatbot

    • Rp500.000/bulan untuk chatbot + konten promosi

Keunggulan lokal

UMKM Indonesia sangat aktif di WhatsApp dan marketplace, sehingga otomatisasi chat dan promosi sangat dibutuhkan. Persaingan masih rendah untuk jasa AI khusus UMKM kecil.


5. Daftar Referensi

  1. McKinsey & Company – Featured Insights
    https://www.mckinsey.com/featured-insights

  2. Google – Think with Google (e-Conomy SEA)
    https://www.thinkwithgoogle.com

  3. Deloitte Insights – Digital & SME Trends
    https://www2.deloitte.com/us/en/insights.html

  4. World Economic Forum – Future of AI & Entrepreneurship
    https://www.weforum.org/reports

Tugas Mandiri 14

 

Analisis Scale-Up Kopi Kenangan



Pendahuluan Singkat

Kopi Kenangan adalah salah satu startup F&B Indonesia paling sukses dalam melakukan scale-up cepat. Didirikan pada 2017, perusahaan ini bertransformasi dari satu gerai kopi grab-and-go menjadi jaringan ratusan gerai dengan valuasi unicorn dan ekspansi internasional. Kasus ini menarik karena menunjukkan bagaimana New Retail + teknologi + operational excellence dapat menghasilkan pertumbuhan eksponensial di sektor yang secara tradisional margin-nya tipis.


A. Fase Transisi (The Turning Point)

Momen transisi utama Kopi Kenangan terjadi pada 2019–2020, saat perusahaan beralih dari fase product-market fit ke fase scale-up agresif.

Indikator kunci:

  1. Pendanaan besar (Seri B & C) dari investor global seperti Sequoia Capital dan Arrive (2019–2020), yang memberi amunisi untuk ekspansi gerai.

  2. Ledakan transaksi digital melalui aplikasi Kenangan, yang meningkatkan repeat order dan menurunkan churn.

  3. Ekspansi nasional cepat: dari puluhan menjadi ratusan gerai dalam waktu singkat.

Sebelum fase ini, Kopi Kenangan fokus pada survival: validasi produk (kopi susu gula aren), harga terjangkau, dan model gerai kecil. Setelah indikator-indikator di atas terpenuhi, mereka masuk fase blitz-scaling.


B. Strategi Penggerak Skala (The Scale Drivers)

1. Inovasi Teknologi

Kopi Kenangan membangun platform pemesanan berbasis aplikasi:

  • Pre-order → mengurangi antrean & meningkatkan throughput gerai

  • Data pelanggan → personalisasi promo

  • Integrasi pembayaran → mempercepat cashflow

Teknologi ini membuat mereka mampu menangani jutaan transaksi tanpa menaikkan biaya operasional secara linear (economies of scale).


2. Model Bisnis: New Retail

Mereka tidak menjadi café premium, tetapi grab-and-go New Retail:

  • Gerai kecil (CAPEX rendah)

  • Volume transaksi tinggi

  • Margin dijaga lewat efisiensi supply chain

Model ini meningkatkan LTV (Lifetime Value) karena pelanggan membeli kopi harian, bukan sesekali.


3. Manajemen SDM & Organisasi

Saat scale-up, Kopi Kenangan mengubah:

  • Dari tim startup kecil → organisasi regional dengan struktur operasional, HR, supply chain, dan data

  • Mereka membangun SOP standar nasional untuk rasa, kualitas, dan layanan

Ini memungkinkan pembukaan puluhan gerai baru per bulan tanpa kehilangan konsistensi.


C. Analisis Metrik & Pendanaan

Pendanaan

Kopi Kenangan telah memperoleh lebih dari USD 200 juta dari:

  • Sequoia Capital

  • B Capital

  • Horizons Ventures

  • Arrive

Pendanaan ini digunakan untuk:

  • Ekspansi gerai

  • Infrastruktur IT

  • R&D produk

  • Masuk pasar internasional


Unit Economics

Mereka menjaga:

  • CAC rendah → lewat promo di aplikasi dan word-of-mouth

  • LTV tinggi → pelanggan membeli kopi berulang kali

  • Burn rate terkendali → karena model gerai kecil lebih cepat balik modal dibanding café besar

Ini membuat investor percaya bahwa pertumbuhan mereka bukan sekadar bakar uang, tapi berbasis fundamental bisnis.


D. Lesson Learned

Keputusan Paling Berisiko

Masuk ke ekspansi internasional (Malaysia & Singapura) dan produk FMCG (kopi botol) adalah keputusan berisiko karena:

  • Kompetisi lebih ketat

  • Biaya lebih tinggi
    Namun, ini membuka sumber revenue baru di luar gerai.


Menjaga Budaya Asli

Kopi Kenangan tetap mempertahankan:

  • Fokus pada harga terjangkau

  • Kecepatan layanan

  • Brand yang dekat dengan anak muda

Walau sudah unicorn, mereka tidak mengubah positioning menjadi premium café.


Kesimpulan Pribadi

Menurut saya, pertumbuhan Kopi Kenangan masih cukup sustainable, karena:

  • Unit economics positif

  • Brand kuat

  • Teknologi meningkatkan efisiensi

Namun, risiko burnout ada jika:

  • Ekspansi terlalu cepat

  • Biaya operasional di luar negeri tidak terkendali

Keberhasilan mereka menunjukkan bahwa scale-up bukan soal membuka gerai sebanyak-banyaknya, tetapi tentang menumbuhkan LTV lebih cepat daripada burn rate.


Tugas Mandiri 13

 

Mapping the Support System: Analisis Lembaga Fasilitator Wirausaha

Objek Studi: PLUT-KUMKM (Pusat Layanan Usaha Terpadu Koperasi dan UMKM)


A. Identitas Lembaga

Nama Lembaga:
PLUT-KUMKM (Pusat Layanan Usaha Terpadu – Koperasi dan Usaha Mikro Kecil Menengah)

Status:
Lembaga pemerintah (di bawah Kementerian Koperasi dan UKM RI, dikelola oleh Dinas Koperasi di tingkat provinsi/kabupaten)

Lokasi:
PLUT tersedia di hampir seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia.
Contoh:
PLUT-KUMKM Provinsi Sumatera Utara, PLUT-KUMKM DKI Jakarta, PLUT-KUMKM Jawa Barat, dll.

Kanal Komunikasi:


B. Inventarisasi Layanan (Services Offered)

PLUT-KUMKM berfungsi sebagai “one stop service” untuk pelaku UMKM. Layanannya meliputi:

1. Akses Modal

PLUT membantu UMKM untuk:

  • Mengajukan KUR (Kredit Usaha Rakyat)

  • Mengakses pembiayaan dari bank atau koperasi

  • Mempersiapkan proposal pembiayaan

Mahasiswa yang memiliki usaha rintisan dapat dibantu menyusun proposal bisnis dan laporan keuangan.


2. Pendampingan Legalitas Usaha

PLUT menyediakan pendampingan untuk:

  • NIB (Nomor Induk Berusaha)

  • Izin usaha UMKM

  • Sertifikasi halal

  • Merek dagang

Ini sangat penting karena banyak UMKM dan mahasiswa pengusaha belum paham aspek legal.


3. Pelatihan dan Inkubasi

PLUT menyediakan:

  • Pelatihan kewirausahaan

  • Pelatihan pemasaran digital

  • Pelatihan keuangan UMKM

  • Mentoring bisnis

Beberapa PLUT juga memiliki program inkubasi untuk usaha rintisan.


4. Fasilitas Fisik

Sebagian PLUT memiliki:

  • Ruang konsultasi

  • Ruang pelatihan

  • Co-working space

  • Fasilitas produksi ringan


C. Analisis Aksesibilitas bagi Mahasiswa

Prosedur Mengakses Layanan

Mahasiswa dapat:

  1. Datang langsung ke kantor PLUT

  2. Mendaftar sebagai UMKM binaan

  3. Mengisi formulir usaha atau rencana bisnis

Tidak wajib sudah memiliki omzet besar.

Apakah Ramah bagi Pemula?

Ya. PLUT sangat ramah bagi:

  • Usaha rintisan

  • Mahasiswa wirausaha

  • Pelaku usaha mikro

Syarat utama hanya:

  • Memiliki ide atau usaha

  • Bersedia mengikuti pendampingan


D. Penilaian Kritis (Refleksi Personal)

Kelebihan PLUT-KUMKM

  1. Gratis dan dibiayai negara

  2. Akses legalitas dan permodalan sangat kuat

  3. Cocok untuk UMKM pemula

  4. Ada pendamping langsung

Kekurangan

  1. Pelayanan bisa lambat karena birokrasi

  2. Kualitas mentor berbeda tiap daerah

  3. Kurang fokus pada startup berbasis teknologi


Relevansi bagi Mahasiswa Wirausaha

Jika saya memiliki ide bisnis, layanan yang paling saya butuhkan dari PLUT adalah:

  • Legalitas usaha (NIB dan halal)

  • Pendampingan proposal modal

  • Pelatihan pemasaran digital

Tanpa legalitas dan akses modal, usaha mahasiswa sulit berkembang ke tahap profesional.


Kesimpulan

PLUT-KUMKM merupakan lembaga fasilitator yang sangat strategis bagi wirausaha muda. Dengan layanan terpadu mulai dari pelatihan, legalitas, hingga pembiayaan, PLUT menjadi fondasi penting bagi ekosistem kewirausahaan lokal.

Bagi mahasiswa, PLUT adalah pintu masuk terbaik untuk mengubah ide bisnis menjadi usaha resmi yang berkelanjutan.

Tugas Mandiri 12

 

TOMS Shoes – Studi Kasus Usaha Sosial Berhasil


Pendahuluan

Kemiskinan ekstrem dan kurangnya akses terhadap kebutuhan dasar masih menjadi masalah besar di banyak negara berkembang. Salah satu bentuk ketimpangan yang sering diabaikan adalah akses terhadap alas kaki. Jutaan anak di dunia tumbuh tanpa sepatu, yang meningkatkan risiko infeksi, penyakit kulit, dan tidak bisa bersekolah karena aturan kesehatan.

TOMS Shoes dipilih sebagai studi kasus karena merupakan salah satu usaha sosial paling terkenal di dunia yang berhasil menggabungkan misi sosial dengan bisnis ritel global. TOMS telah menjadi pelopor model “One for One”, di mana setiap produk yang dijual akan memberikan bantuan langsung kepada masyarakat yang membutuhkan.


Profil Usaha Sosial: TOMS Shoes

Nama usaha: TOMS Shoes
Tahun didirikan: 2006
Pendiri: Blake Mycoskie (Amerika Serikat)

Masalah Sosial yang Diatasi

TOMS awalnya fokus pada:

  • Anak-anak di negara miskin yang tidak memiliki sepatu

  • Risiko penyakit dan infeksi kaki

  • Hambatan pendidikan akibat tidak memenuhi standar kesehatan

Kini, TOMS juga menangani:

  • Kesehatan mental

  • Akses air bersih

  • Kesetaraan gender


Model Bisnis Inti

TOMS adalah perusahaan ritel berbasis sosial yang menjual:

  • Sepatu

  • Kacamata

  • Pakaian

  • Aksesori

Pendapatan diperoleh dari penjualan produk komersial di:

  • Toko fisik

  • Website global

  • Marketplace internasional

Sebagian dari keuntungan dialokasikan untuk pendanaan program sosial melalui model One for One (sekarang berbasis dana dampak).


Target Penerima Manfaat

  • Anak-anak di negara berkembang

  • Komunitas miskin

  • Organisasi mitra di bidang kesehatan dan pendidikan

Sejak berdiri, TOMS telah menyalurkan lebih dari 100 juta pasang sepatu dan mendanai berbagai program sosial di lebih dari 70 negara.


Analisis Faktor Keberhasilan

A. Faktor Inovasi Bisnis (Profit)

1. Produk Sederhana dengan Desain Ikonik

TOMS menciptakan sepatu dengan desain khas yang mudah dikenali, murah diproduksi, dan memiliki daya tarik emosional tinggi.

2. Branding Emosional yang Kuat

Konsumen tidak hanya membeli sepatu, tetapi juga merasa “berbuat baik” saat membeli.

3. Distribusi Global

TOMS berhasil masuk ke:

  • Mall internasional

  • Toko ritel besar

  • E-commerce global


B. Faktor Inovasi Dampak (People & Planet)

4. Model “One for One”

Setiap pembelian menghasilkan manfaat nyata bagi orang lain. Ini bukan CSR terpisah, tetapi inti dari bisnis.

5. Kemitraan dengan NGO

Distribusi bantuan dilakukan melalui mitra lokal yang memahami kebutuhan komunitas.

6. Fokus Keberlanjutan

TOMS mulai beralih ke:

  • Bahan ramah lingkungan

  • Produksi etis


C. Faktor Kepemimpinan & Tata Kelola

7. Visi Pendiri yang Kuat

Blake Mycoskie menjadikan misi sosial sebagai fondasi perusahaan, bukan tambahan.

8. Transparansi dan Akuntabilitas

TOMS mempublikasikan laporan dampak dan kemitraan.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Pelajaran Utama

TOMS menunjukkan bahwa:

  • Konsumen bersedia membayar untuk produk bermakna

  • Bisnis dan kebaikan sosial bisa berjalan bersamaan

  • Misi sosial dapat menjadi alat diferensiasi pasar

Skalabilitas Model

Model TOMS sangat mudah direplikasi di sektor lain:

  • Pakaian

  • Produk kesehatan

  • Produk ramah lingkungan


Daftar Sumber

  1. TOMS Official Impact Report (2023)

  2. Forbes – TOMS Business Model

  3. Harvard Business Review – One for One Model

Tugas Mandiri 11

 

Analisis Tren dan Studi Kasus Digitalisasi

Label: Tugas Terstruktur 11

Farrel Edviant Batubara AE39


Pendahuluan

Periode 2024–2025 menandai fase percepatan transformasi digital di Indonesia. Digitalisasi tidak lagi hanya menjadi alat pendukung bisnis, tetapi telah menjadi fondasi utama daya saing perusahaan. Perubahan perilaku konsumen, kematangan teknologi seperti Artificial Intelligence (AI), big data, serta penetrasi internet yang terus meningkat telah memaksa pelaku usaha dari berbagai sektor untuk beradaptasi atau tertinggal.

Laporan Google–Temasek–Bain (2024) menunjukkan bahwa ekonomi digital Indonesia diproyeksikan mencapai lebih dari USD 130 miliar pada 2025, didorong oleh e-commerce, layanan keuangan digital, dan ekonomi kreatif. Kondisi ini menunjukkan bahwa digitalisasi telah menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi nasional.

Esai ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama membahas tren digitalisasi pada sektor Food and Beverage (F&B) di Indonesia. Bagian kedua menyajikan studi kasus GoFood (Gojek) sebagai contoh keberhasilan transformasi digital di sektor tersebut.


Bagian 1 – Analisis Tren Digitalisasi Sektor F&B Indonesia

1. Identifikasi Sektor

Sektor yang dipilih adalah Food and Beverage (F&B), khususnya bisnis restoran, UMKM kuliner, dan layanan pesan antar makanan. Sektor ini dipilih karena:

  • Memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional

  • Sangat terdampak perubahan perilaku konsumen

  • Merupakan sektor dengan adopsi teknologi tercepat pasca pandemi

Menurut Badan Pusat Statistik (2024), industri makanan dan minuman menyumbang lebih dari 38% PDB industri manufaktur Indonesia.


2. Tiga Tren Digitalisasi Utama

a. Online Food Delivery & Super-App Ecosystem

Platform seperti GoFood, GrabFood, dan ShopeeFood telah mengubah cara konsumen membeli makanan. UMKM tidak lagi bergantung pada lokasi fisik karena pelanggan dapat memesan melalui aplikasi.

Fungsi utama ekosistem ini meliputi:

  • Pemesanan digital

  • Pembayaran cashless

  • Promosi berbasis algoritma

  • Logistik last-mile delivery

Menurut McKinsey (2024), lebih dari 60% konsumen urban di Indonesia memesan makanan melalui aplikasi minimal sekali dalam seminggu.


b. Hyper-Personalization berbasis AI

Platform F&B kini menggunakan AI dan data analytics untuk:

  • Memprediksi preferensi rasa pelanggan

  • Memberikan rekomendasi menu

  • Menyusun promo individual

Contohnya, aplikasi GoFood menampilkan rekomendasi berdasarkan:

  • Riwayat pesanan

  • Lokasi

  • Waktu makan

  • Pola konsumsi

Teknologi ini meningkatkan konversi penjualan karena pelanggan merasa ditawarkan produk yang relevan.


c. Cloud Kitchen dan Digital Supply Chain

Cloud kitchen adalah dapur tanpa restoran fisik yang hanya melayani pesanan online. Ini memungkinkan:

  • Biaya sewa lebih rendah

  • Operasi berbasis data

  • Skalabilitas tinggi

Selain itu, penggunaan POS digital dan IoT membantu pelaku F&B memantau:

  • Stok bahan baku

  • Waktu pengolahan

  • Kualitas makanan

Menurut laporan e-Marketer (2024), jumlah cloud kitchen di Asia Tenggara tumbuh lebih dari 20% per tahun.


3. Dampak Jangka Panjang (2025–2028)

Ketiga tren ini akan mengubah lanskap persaingan F&B dalam tiga tahun ke depan:

  1. Persaingan akan berbasis data, bukan lokasi
    Restoran yang memahami data pelanggan akan unggul, bukan yang memiliki tempat paling strategis.

  2. UMKM akan mampu bersaing dengan brand besar
    Berkat platform digital, warung kecil bisa menjangkau pelanggan yang sama dengan restoran franchise.

  3. Efisiensi operasional menjadi penentu profitabilitas
    Bisnis yang mengadopsi cloud kitchen dan sistem digital akan lebih efisien dibanding yang konvensional.


Bagian 2 – Studi Kasus: GoFood (Gojek Indonesia)

1. Profil Perusahaan dan Tantangan Awal

GoFood adalah layanan pesan antar makanan yang berada di bawah ekosistem Gojek. Diluncurkan pada 2015, GoFood kini menjadi salah satu platform food delivery terbesar di Asia Tenggara.

Tantangan sebelum digitalisasi:

  • UMKM F&B sulit menjangkau pasar luas

  • Transaksi masih tunai

  • Tidak ada data pelanggan

  • Biaya pemasaran tinggi

Sebagian besar pedagang makanan bergantung pada pelanggan yang datang langsung ke toko.


2. Strategi Transformasi Digital

GoFood menerapkan transformasi berbasis dua pilar utama:

a. Digitalisasi Proses Bisnis UMKM

  • UMKM diberi aplikasi GoBiz

  • Sistem pencatatan pesanan otomatis

  • Integrasi pembayaran digital

  • Manajemen menu dan harga berbasis aplikasi

b. Transformasi Pengalaman Pelanggan

  • Aplikasi mobile untuk pelanggan

  • Tracking pesanan real-time

  • Sistem rating & ulasan

  • Rekomendasi berbasis AI


3. Implementasi Teknologi Kunci

GoFood menggunakan beberapa teknologi utama:

TeknologiFungsi
AI Recommendation EngineMemberikan rekomendasi menu
Big Data AnalyticsAnalisis perilaku pelanggan
Cloud ComputingSkalabilitas sistem
Digital Payment (GoPay)Transaksi tanpa uang tunai
CRMManajemen hubungan pelanggan

4. Hasil dan Dampak

Menurut laporan Gojek dan Google (2024):

  • GoFood menaungi lebih dari 2 juta merchant

  • Sekitar 70% UMKM mitra mengalami peningkatan pendapatan

  • Rata-rata merchant meningkatkan omzet hingga 2–3 kali lipat

  • Tingkat kepuasan pelanggan meningkat signifikan karena kemudahan dan kecepatan layanan

Selain itu, ribuan UMKM yang sebelumnya tidak bankable kini memiliki rekam transaksi digital.


5. Key Takeaways bagi Wirausaha

  1. Digitalisasi bukan hanya teknologi, tapi model bisnis baru
    GoFood mengubah cara UMKM menjual makanan.

  2. Data adalah aset utama
    Pemahaman pelanggan meningkatkan loyalitas dan penjualan.

  3. Kolaborasi platform mempercepat pertumbuhan
    UMKM tidak perlu membangun sistem sendiri.


Kesimpulan

Transformasi digital telah merevolusi sektor F&B Indonesia. Tren seperti online food delivery, AI personalisasi, dan cloud kitchen akan terus memperkuat efisiensi dan daya saing industri. Studi kasus GoFood membuktikan bahwa digitalisasi mampu mendorong pertumbuhan signifikan bagi UMKM dan perusahaan besar sekaligus.


Daftar Pustaka

  1. Google, Temasek, Bain. (2024). e-Economy SEA Report.

  2. Badan Pusat Statistik. (2024). Statistik Industri Makanan dan Minuman Indonesia.

  3. McKinsey & Company. (2024). Digital Consumer Trends in Southeast Asia.

  4. e-Marketer. (2024). Food Delivery and Cloud Kitchen Market Report.

  5. Gojek. (2024). GoFood Impact Report.

Tugas Mandiri 10

 

Regulasi dan Tantangan Bisnis Internasional

Farrel Edviant Batubara - AE39

Bagian I – Analisis Regulasi dan Hambatan Perdagangan (60%)

1. Penetapan Produk dan Target Pasar Global

Produk yang dipilih:
Kopi Arabika Indonesia (green bean dan roasted coffee)

Negara target utama:
Amerika Serikat

Alasan pemilihan:
Indonesia adalah salah satu produsen kopi arabika terbesar di dunia (Gayo, Toraja, Kintamani). Amerika Serikat merupakan salah satu negara pengimpor dan konsumen kopi terbesar di dunia dengan permintaan tinggi terhadap kopi specialty dan single origin.


2. Analisis Regulasi Ekspor di Indonesia

a. Klasifikasi Produk (HS Code)

HS Code untuk kopi:

  • 0901.11 – Kopi tidak disangrai (green bean)

  • 0901.21 – Kopi sangrai (roasted coffee)

Kegunaan HS Code:
HS Code digunakan secara internasional untuk:

  • Menentukan tarif bea masuk di negara tujuan

  • Mengatur statistik perdagangan

  • Menentukan apakah produk memerlukan izin atau sertifikat khusus

  • Menentukan larangan dan pembatasan ekspor


b. Dokumen Ekspor Utama

Tiga dokumen utama:

  1. Commercial Invoice
    Berisi data penjual, pembeli, jenis barang, harga, jumlah, dan nilai transaksi. Digunakan oleh bea cukai untuk menghitung pajak dan bea.

  2. Packing List
    Menjelaskan detail kemasan: jumlah karung kopi, berat bersih dan kotor, dan cara pengepakan.

  3. Bill of Lading (B/L) atau Air Waybill (AWB)
    Dokumen pengangkutan yang dikeluarkan oleh perusahaan pelayaran atau maskapai. Menjadi bukti kepemilikan dan kontrak pengiriman barang.


c. Perizinan Khusus

Surat Keterangan Asal (SKA / Certificate of Origin – Form A)
Dokumen resmi dari Kementerian Perdagangan yang membuktikan bahwa kopi berasal dari Indonesia. Digunakan untuk mendapatkan tarif preferensi di negara tujuan.


3. Regulasi Impor di Amerika Serikat

a. Tarif Bea Masuk

Kopi (HS 0901) umumnya 0% bea masuk ke AS, terutama kopi mentah (green bean).
Indonesia dapat memanfaatkan Generalized System of Preferences (GSP) dari AS sehingga tarif tetap nol jika disertai SKA.


b. Hambatan Non-Tarif

Hambatan utama: Food Safety Regulation (FDA)

AS mewajibkan:

  • Registrasi eksportir di US FDA

  • Kepatuhan terhadap Food Safety Modernization Act (FSMA)

  • Produk harus bebas jamur, aflatoksin, dan kontaminan

Cara mengatasinya:

  • Menggunakan fasilitas pengolahan kopi yang bersertifikat

  • Melakukan uji laboratorium

  • Mendaftarkan eksportir ke FDA

  • Menggunakan kemasan food-grade dan label yang sesuai


Bagian II – Tantangan dan Strategi Perdagangan Internasional (40%)

4. Penetapan Incoterms

Incoterms pilihan: CIF (Cost, Insurance, and Freight)

Alasan pemilihan:

  • Lebih menarik bagi pembeli baru

  • Penjual mengurus asuransi dan pengiriman sampai pelabuhan AS

  • Cocok untuk membangun kepercayaan awal

Transfer Risiko:
Risiko berpindah dari penjual ke pembeli saat barang dimuat ke atas kapal di pelabuhan Indonesia, meskipun biaya dan asuransi masih ditanggung penjual.


5. Strategi Manajemen Risiko

RisikoDampakStrategi
Fluktuasi kursPendapatan rupiah bisa turunGunakan kontrak dalam USD atau hedging
Sengketa dagangPembeli menolak bayarGunakan Letter of Credit dan asuransi ekspor

6. Etika dan Budaya Bisnis AS

Aspek budaya: Profesionalisme dan ketepatan waktu

Implementasi:

  • Email dibalas cepat

  • Kontrak tertulis jelas

  • Kualitas dan deadline harus konsisten


Kesimpulan

Ekspor kopi Arabika Indonesia ke Amerika Serikat sangat potensial karena tarif nol, permintaan tinggi, dan dukungan perdagangan internasional. Namun, eksportir harus mematuhi regulasi Indonesia dan AS, memilih Incoterms yang tepat, serta menerapkan strategi mitigasi risiko dan etika bisnis internasional.

Tugas Terstruktur 15 - AI sebagai Mitra Wirausaha: Menyongsong Wirausaha Masa Depan

 

AI sebagai Mitra Wirausaha: Menyongsong Wirausaha Masa Depan

Farrel Edviant Batubara - (AE39)

Lead (Pembuka)

Beberapa tahun lalu, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) masih dianggap sebagai teknologi mahal yang hanya bisa diakses oleh perusahaan raksasa teknologi. Namun hari ini, AI telah hadir di genggaman pelaku usaha kecil, mulai dari chatbot layanan pelanggan, analisis perilaku konsumen, hingga prediksi penjualan. Perubahan ini menandai sebuah pergeseran penting: AI tidak lagi sekadar alat bantu, melainkan mulai berperan sebagai mitra strategis dalam pengambilan keputusan bisnis. Di tengah dinamika global, perubahan perilaku konsumen, dan tantangan keberlanjutan, wirausaha masa depan dituntut untuk mampu beradaptasi dengan cepat dan cerdas.

AI dan Transformasi Model Bisnis

Kehadiran AI telah mengubah cara wirausaha merancang dan menjalankan bisnis. Proses yang sebelumnya memerlukan banyak tenaga manusia kini dapat diotomatisasi dengan tingkat akurasi yang tinggi. Contohnya, sistem AI mampu menganalisis data penjualan historis untuk memprediksi permintaan pasar, sehingga membantu pelaku usaha mengurangi risiko kelebihan stok dan pemborosan sumber daya.

Bagi startup dan UMKM, AI membuka peluang efisiensi yang signifikan. Dengan biaya yang semakin terjangkau, teknologi seperti machine learning dan data analytics memungkinkan pelaku usaha memahami pasar secara lebih mendalam. Hal ini menciptakan keunggulan kompetitif, terutama di era persaingan global yang semakin ketat.

Perubahan Perilaku Konsumen di Era Digital

Generasi Z dan Generasi Alpha tumbuh dalam lingkungan yang sepenuhnya digital. Mereka terbiasa dengan layanan yang cepat, personal, dan transparan. AI berperan penting dalam menjawab ekspektasi ini melalui personalisasi produk dan layanan. Rekomendasi berbasis AI, misalnya, mampu menyesuaikan penawaran sesuai preferensi individu konsumen.

Selain itu, konsumen masa kini semakin peduli terhadap nilai dan etika bisnis. Mereka tidak hanya membeli produk, tetapi juga membeli cerita, visi, dan dampak sosial di balik sebuah merek. Di sinilah peran AI menjadi relevan, yaitu membantu bisnis mengelola komunikasi, memantau sentimen publik, dan menjaga reputasi merek secara real-time.

Tantangan Global dan Kebutuhan Adaptasi

Dunia usaha masa depan tidak terlepas dari tantangan global seperti ketidakpastian ekonomi, perubahan iklim, dan disrupsi rantai pasok. AI dapat menjadi alat mitigasi risiko dengan memberikan simulasi skenario bisnis dan rekomendasi strategis berbasis data. Namun, ketergantungan berlebihan pada teknologi juga menimbulkan risiko baru, seperti bias algoritma dan isu keamanan data.

Oleh karena itu, wirausaha masa depan harus memiliki literasi digital yang memadai. Pemahaman tentang cara kerja AI, keterbatasannya, serta implikasi etisnya menjadi kompetensi penting. Tanpa pemahaman ini, teknologi canggih justru dapat menimbulkan masalah baru bagi bisnis.

AI dan Keberlanjutan Bisnis

Keberlanjutan menjadi isu sentral dalam dunia kewirausahaan modern. AI berpotensi besar mendukung praktik bisnis berkelanjutan, misalnya melalui optimasi penggunaan energi, pengelolaan limbah, dan perencanaan produksi yang lebih ramah lingkungan. Dalam konteks ekonomi sirkular, AI dapat membantu melacak siklus hidup produk dan memaksimalkan nilai guna sumber daya.

Investor juga semakin mempertimbangkan aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam pengambilan keputusan. Bisnis yang mampu memanfaatkan AI untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas memiliki peluang lebih besar untuk mendapatkan kepercayaan investor dan konsumen.

Strategi Adaptasi bagi Wirausahawan

Untuk menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian, wirausahawan perlu mengadopsi beberapa strategi adaptasi. Pertama, membangun budaya pembelajaran berkelanjutan (lifelong learning). Teknologi berkembang dengan cepat, sehingga kemampuan untuk terus belajar menjadi kunci keberlanjutan bisnis.

Kedua, mengintegrasikan AI secara bertahap dan strategis. Tidak semua proses harus langsung diotomatisasi. Wirausahawan perlu mengidentifikasi area bisnis yang paling membutuhkan dukungan AI dan mengimplementasikannya secara bertanggung jawab.

Ketiga, menjaga keseimbangan antara teknologi dan sentuhan manusia. Meskipun AI unggul dalam analisis data, nilai-nilai seperti empati, kreativitas, dan etika tetap menjadi kekuatan utama manusia. Kombinasi keduanya akan menciptakan model bisnis yang tangguh dan berkelanjutan.

Penutup

Wirausaha masa depan tidak ditentukan oleh siapa yang memiliki teknologi paling canggih, tetapi oleh siapa yang mampu memanfaatkannya secara bijak. AI menawarkan peluang besar untuk meningkatkan efisiensi, memahami konsumen, dan menghadapi tantangan global. Namun, teknologi ini harus diimbangi dengan pemikiran kritis, etika, dan komitmen terhadap keberlanjutan.

Bagi calon wirausahawan, masa depan adalah ruang kolaborasi antara manusia dan mesin. Dengan sikap adaptif dan visi jangka panjang, AI dapat menjadi mitra strategis dalam membangun bisnis yang tidak hanya menguntungkan, tetapi juga berdampak positif bagi masyarakat dan lingkungan.

Referensi

  1. Schwab, K. (2016). The Fourth Industrial Revolution. World Economic Forum.

  2. McKinsey Global Institute. (2023). The Economic Potential of Artificial Intelligence.

  3. Porter, M. E., & Kramer, M. R. (2019). Creating Shared Value. Harvard Business Review.

Minggu, 11 Januari 2026

Tugas Terstruktur 7

 

TUGAS TERSTRUKTUR 07

Topik: Rencana Operasional dan Prosedur Pengendalian Mutu Usaha

Farrel Edviant Batubara (AE39) - File Google Docs Dosen Pengampu: Atep Afia Hidayat, Ir. MP

Nama Usaha

CrispyKita – Usaha Produksi Keripik Pisang Premium


1. Deskripsi Produk dan Proses Produksi

CrispyKita adalah usaha produksi makanan ringan berupa keripik pisang premium dengan berbagai varian rasa seperti original, cokelat, keju, dan balado. Produk ini ditujukan untuk pasar mahasiswa, pekerja muda, dan penikmat camilan sehat dengan kemasan modern.

Bahan baku utama berupa pisang kepok berkualitas, minyak goreng, bumbu perasa, dan kemasan plastik food grade.

Alur Proses Produksi

Penerimaan bahan baku → Pencucian → Pengupasan → Pemotongan → Perendaman → Penggorengan → Penirisan → Pemberian rasa → Pendinginan → Pengemasan → Penyimpanan


2. Perencanaan Kapasitas dan Jadwal Produksi

Kapasitas produksi dirancang untuk 50 kg pisang mentah per hari, menghasilkan ±25 kg keripik jadi atau sekitar 500 bungkus @50 gram.

Jadwal Produksi Harian

WaktuAktivitas
08.00–09.00Persiapan bahan baku
09.00–11.00Pengupasan & pemotongan
11.00–13.00Penggorengan
13.00–14.00Istirahat
14.00–15.30Pemberian rasa
15.30–17.00Pengemasan dan penyimpanan

3. Alokasi Sumber Daya

Tenaga Kerja

PosisiJumlahTugas
Produksi3 orangKupas, goreng, beri rasa
QC1 orangCek mutu
Pengemasan2 orangPacking & label

Bahan Baku Harian

  • Pisang kepok: 50 kg

  • Minyak goreng: 10 liter

  • Bumbu rasa: 2 kg

  • Kemasan: 500 pcs

Peralatan

  • Kompor gas

  • Wajan besar

  • Mesin pemotong

  • Spinner minyak

  • Timbangan

  • Sealer plastik


4. Layout Fasilitas dan Alur Kerja

Alur ruang:

Gudang bahan → Area cuci → Area potong → Area goreng → Area penirisan → Area bumbu → Area kemas → Gudang produk

Layout ini mengikuti prinsip aliran satu arah untuk mencegah kontaminasi silang.


5. Estimasi Biaya Operasional Harian

KomponenBiaya (Rp)
Pisang500.000
Minyak200.000
Bumbu150.000
Kemasan100.000
Tenaga kerja400.000
Gas & listrik100.000
Total1.450.000

Dengan produksi 500 bungkus, biaya per bungkus ≈ Rp 2.900.


6. Prosedur Pengendalian Mutu (Quality Control)

Standar Kualitas

  • Warna kuning keemasan

  • Tidak berminyak

  • Rasa konsisten

  • Renyah minimal 7 hari

  • Kemasan tertutup rapat

Tahap Inspeksi

TahapMetode
Bahan bakuCek visual & bau
Setelah gorengCek warna & tekstur
Setelah bumbuCek rasa
Setelah kemasCek seal & berat

7. Sistem Pencatatan Mutu

Form QC harian:

TanggalBatchCacatJenis CacatTindakan

8. Tindakan Korektif dan Preventif

Jika ditemukan produk berminyak:

  • Koreksi: produk disaring ulang

  • Preventif: tambah waktu penirisan

Jika rasa tidak konsisten:

  • Koreksi: ulang bumbu

  • Preventif: gunakan takaran baku


9. Penerapan PDCA

Plan: Target 500 bungkus/hari
Do: Produksi sesuai SOP
Check: QC cek 10% produk
Act: Perbaiki jika ada cacat


10. Kesimpulan

CrispyKita memiliki sistem operasional yang realistis dan sistem SQC berbasis standar mutu. Dengan SOP, pencatatan, dan kontrol kualitas, usaha ini layak dikembangkan sebagai UMKM modern.

7P Tugas Terstruktur 6

 

Strategi Pemasaran Produk/Jasa dengan Konsep 7P

November 17, 2025
Oleh: Farrel Edviant Batubara (AE 39)

Judul

“Penerapan Marketing Mix (7P) pada NIKE sebagai Brand Olahraga Global di Indonesia”


Pendahuluan

Latar Belakang

Nike adalah salah satu perusahaan apparel dan perlengkapan olahraga terbesar di dunia yang dikenal sebagai simbol performa, inovasi, dan gaya hidup aktif. Di Indonesia, Nike tidak hanya diposisikan sebagai merek sepatu atau pakaian olahraga, tetapi sebagai bagian dari identitas anak muda, atlet, dan komunitas pecinta olahraga. Nike berhasil memadukan fungsi olahraga dengan gaya hidup (sport lifestyle), sehingga produknya digunakan tidak hanya untuk aktivitas fisik, tetapi juga untuk fashion sehari-hari.

Dalam beberapa tahun terakhir, Nike semakin memperkuat pendekatan digital, komunitas olahraga, dan storytelling merek. Kampanye seperti Just Do It dan dukungan terhadap atlet dunia membuat Nike memiliki hubungan emosional yang kuat dengan konsumennya. Hal ini menjadikan Nike menarik untuk dianalisis menggunakan konsep 7P karena strategi pemasarannya sangat komprehensif dan terintegrasi secara global maupun lokal.

Tujuan Analisis

Analisis ini bertujuan untuk menerapkan konsep marketing mix 7P pada Nike, mengidentifikasi kekuatan strategi pemasarannya, serta merumuskan rekomendasi agar Nike semakin relevan di pasar Indonesia, khususnya bagi generasi muda yang aktif, digital, dan sadar akan gaya hidup sehat.

Gambaran Umum Pasar Sasaran

Nike menyasar konsumen berusia 15–40 tahun yang aktif secara fisik, peduli terhadap penampilan, dan tertarik pada brand global dengan nilai inspiratif. Segmen ini mencakup pelajar, mahasiswa, atlet amatir, hingga pekerja muda yang menggunakan produk Nike baik untuk olahraga maupun gaya hidup kasual. Di Indonesia, pasar ini tumbuh seiring meningkatnya tren olahraga seperti lari, gym, futsal, basket, dan gaya hidup sehat.


Analisis Strategi Pemasaran 7P Nike

A. Produk (Product)

Nike menawarkan rangkaian produk yang sangat luas, mulai dari sepatu olahraga (running, basketball, football, training), pakaian olahraga, hingga aksesoris seperti tas dan topi. Selain itu, Nike juga memiliki lini lifestyle seperti Nike Air dan Jordan Brand yang sangat populer di kalangan anak muda. Kekuatan produk Nike terletak pada inovasi teknologi seperti Air, Flyknit, dan React Foam yang meningkatkan performa atlet sekaligus kenyamanan pengguna.

Nike juga sering meluncurkan produk edisi terbatas dan kolaborasi dengan atlet, selebriti, dan desainer, sehingga menciptakan kesan eksklusif dan meningkatkan daya tarik merek.

B. Harga (Price)

Nike menggunakan strategi harga premium, namun tetap memiliki variasi harga untuk menjangkau segmen yang lebih luas. Produk-produk high-end ditujukan untuk atlet dan penggemar berat, sementara seri entry dan mid-level dapat dijangkau oleh konsumen muda. Strategi ini membuat Nike tetap terlihat eksklusif tanpa kehilangan pasar massal.

Diskon musiman, promo online, dan outlet Nike Factory Store juga membantu menarik konsumen yang lebih sensitif terhadap harga.

C. Tempat (Place)

Nike mendistribusikan produknya melalui toko resmi, Nike Factory Store, gerai mitra seperti MAP dan Planet Sports, serta kanal online seperti website Nike, marketplace, dan aplikasi Nike App. Di kota besar, Nike juga memiliki flagship store yang berfungsi sebagai pusat pengalaman merek. Sistem omnichannel ini memudahkan konsumen membeli produk baik secara online maupun offline.

D. Promosi (Promotion)

Nike dikenal dengan strategi promosi berbasis storytelling dan inspirasi. Kampanye seperti Just Do It tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual semangat, keberanian, dan gaya hidup aktif. Nike juga aktif menggunakan influencer, atlet nasional dan internasional, serta media sosial untuk menjangkau generasi muda. Di Indonesia, Nike sering terlibat dalam event olahraga, lomba lari, dan komunitas fitness.

E. Orang (People)

Karyawan toko, pelatih komunitas, dan brand ambassador Nike berperan besar dalam membentuk pengalaman pelanggan. Staf Nike biasanya dilatih untuk memahami produk dan gaya hidup olahraga sehingga mampu memberikan rekomendasi yang tepat. Selain itu, Nike membangun komunitas seperti Nike Run Club dan Nike Training Club yang menghubungkan brand dengan konsumen secara lebih personal.

F. Proses (Process)

Proses pembelian Nike dirancang agar mudah dan cepat, baik di toko fisik maupun online. Aplikasi Nike memungkinkan pengguna memesan, melacak produk, serta mendapatkan rekomendasi berbasis preferensi. Di toko fisik, tata letak dan alur pelayanan dibuat agar konsumen dapat mencoba produk, mendapatkan saran, dan melakukan pembayaran dengan efisien.

G. Bukti Fisik (Physical Evidence)

Bukti fisik Nike terlihat dari desain toko yang modern dan sporty, kemasan produk yang berkualitas, serta tampilan visual brand yang konsisten. Logo swoosh Nike dan slogan Just Do It menjadi simbol kuat yang langsung dikenali. Selain itu, kualitas bahan dan desain produk juga menjadi bukti nyata dari positioning Nike sebagai brand premium dan profesional.


Kesimpulan dan Rekomendasi

Nike telah menerapkan strategi 7P dengan sangat kuat melalui produk inovatif, harga yang mencerminkan kualitas, distribusi luas, promosi inspiratif, SDM profesional, proses pembelian modern, dan bukti fisik yang konsisten. Untuk memperkuat posisinya di Indonesia, Nike dapat memperluas program komunitas olahraga di kota-kota kecil, meningkatkan kolaborasi dengan atlet dan kreator lokal, serta mengembangkan produk yang lebih terjangkau tanpa mengorbankan citra premium. Dengan strategi tersebut, Nike dapat terus menjadi pemimpin pasar olahraga sekaligus ikon gaya hidup generasi muda.

Tugas Mandiri 15

  Tugas Mandiri 15 Riset Tren Kewirausahaan Global & Peluang Digital Topik: Artificial Intelligence for Small Business 1. Ringkasan Tren...